Demokrasi Dan Kepatutan

Demokrasi Dan Kepatutan.

Kata “demokrasi “ sekarang banyak digunakan oleh masyarakat. Banyak ungkapan kalimat yang didalamnya ada kata demokrasi. Sebagai contoh, anda tidak demokrasi, kita harus tegakkan demokrasi, sekarang adalah zamannya demokrasi, jangan demokrasi dibelenggu, ya inilah demokrasi, dan banyak lagi kata – kata yang ada kata demokrasinya. Bahkan adakalanya yang menggunakan kata demokrasi sudah tidak memaknai arti dari demokrasi itu sendiri.

Apakah boleh menjalankan keinginan berdemokrasi seolah – olah demokrasi itu hanya untuk kita atau untuk kelompok kita saja. Sehingga ungkapan demokrasi  dengan cara membentak orang lain, mencerca, memaki, menghina, bahkan ada yang sampai merusak, memukul, dan lain sebagainya. Apakah orang lain tidak memiliki hak berdemokrasi? Ataupun hak untuk dihargai? Entahlah, apa sih makna dari kata demokrasi tersebut?, apakah boleh bebas segala – galanya untuk diungkapkan di depan umum, sehingga norma kepatutan dan akhlak terabaikan?

Memang kita seharusnya menyampaikan kebenaran, baik itu berupa pikiran ataupun perbuatan. Kita harus berani mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar tanpa mengaharapkan suatu penghargaan yang terselubung. Suarakanlah kebenaran itu, tapi disampaikan dengan cara yang ber-akhlak dan patut.

Kalau kita menyimak ajaran agama melalui Hadis yang bunyinya “Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk” (HR. Al Bukhari dan Al Hakim)(p.300-15). Dalam Hadis berikut ini “Tidaklah seharusnya orang menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah-lembut dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang, dan adil terhadap apa yang harus dilarang” (HR. Addailami) (p.120-13).

Yuk kita coba untuk menerapkannya, semoga kita bisa.
(Sumber foto: Bingkai Hidup Ridwansyah).

Add comment January 17th, 2010

Senyum (smile)

Senyum(smile)
Alangkah indah dan damai rasanya jika kita melihat wajah sesorang yang sedang senyum. Entah dia anak kecil ataupun sudah kakek- kakek, nenek-nenek keceriaan tetap terukir diwajah yang senyum.
Tapi akhir – akhir ini wajah senyum sudah agak jarang kita dapati. Kebanyakan sekarang orang-orang dilingkungan kita melihatkan wajah yang garang, wajah yang angker. Apakah ini untuk melihatkan bahwa dia beribawa., atau mungkin untuk menutupi kekurang yang dimilikinya. Entahlah yang mana tepatnya, yang jelas wajah angker tersebut sepintas melihatkan kondisi yang kurang bersahabat.
Coba kita simak ajaran agama, beberapa hadis menganjurkan kita untuk senyum, atau melihatkan wajah yang ceria. Salah satu dari hadis tersebut “Senyummu ke wajah saudaramu adalah sodaqoh” (Mashabih Assunnahi).
Nah, marilah kita mulai dari diri kita, dan kita ajak teman – teman kita untuk mudah memberikan senyum kepada siapa saja. Semoga lingkungan kita nampak keceriaannya. Semoga.

Add comment January 8th, 2010

Hello world!

Selamat datang di Staff UII Blogs. Ini adalah post anda pertama, silahkan edit atau dihapus untuk mengawali melakukan bloging.

1 comment January 7th, 2010


Categories

Links

Feeds

Calendar

January 2012
M T W T F S S
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Meta